Senin, 14 Maret 2011

Akankah Saya Jadi Sarjana Pengangguran?


Baru saja minggu lalu saya sempat merasakan kegalauan karena ternyata saya dan seorang sahabat sekaligus rekan satu penelitian saya tidak bisa mendapatkan gelar sarjana kami pada pekan ini. Beruntung kegalauan itu tak berlama-lama menggangu hati dan pikiran saya. Cukup satu hari saja. Bahkan tidak sampai satu hari, hanya beberapa menit lah. Itu semua berkat kepiawaian saya mengatur suasana hati. Prinsip saya adalah: saya akan menemukan kebahagian itu dengan cara sendiri.


Iya dong. Semuanya itu kan tergantung kita memposisikan hati dan pikiran kita. Kebahagian itu bisa jadi bencana bagi orang-orang yang dengki. Sebaliknya bencana itu juga bisa jadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang yang ikhlas. Pengalaman melewati hampir seperempat belahan bumi membuat saya menjadi orang yang pengen memposisikan segala sesuatu sebagai sumber kebahagiaan dan menyederhanakan permasalahan hidup.

Tapi ternyata permasalahan hidup memang tidak sesederhana itu Choi! Khususnya bagi para lulusan perguruan tinggi di negeri ini. Kenyataan  bahwa setiap satu sarjana dicetak maka hampir bisa dipastikan satu koleksi pengangguran bertambah di Indonesia.

“Bro, kerja di mana lo sekarang?” sms dari salah seorang kawan yang baru saja mendapatkan ijazah S1nya.
“Jobless. Lo gimana kerjaan? ”
“Gw lagi nganggur nih. Kalao ada proyek-proyek bagi-bagi yak”
“InshaAllah Gan. Kalo rejeki kagak ke mana J”

Saya kadang bingung. Tidak sedikit teman yang secara blak-blakan minta informasi kerja atau link kerjaan sama saya. Penah juga dalam satu hari saya menerima dua SMS dari teman yang nyari kerjaan. Atau adek kelas yang berbondong-bondong dateng buat nanya lowongan parttime. Atau yang nyamperin saya sambil bilang “Win ada orang dalem di perusahaan buat kerja ga?”. Wah mas mbak, dikira saya jobstreet berjalan apa. Haha. Tapi berenan loh ada salah seorang sahabat pernah bilang kalau saya ini jobstreet berjalan atau scholarship info berjalan. Maksudnya opo toh? Saya juga kagak ngarti dah.

Sebenarnya saya hanya ingin bercerita tentang kegalauan-kegalauan saya. Kegalauan pertama adalah tentang teman-teman yang telah lebih dahulu menjadi sarjana. Kegalauan kedua adalah soal pertanyaan para dosen, kaprodi, kabiro kemahasiswaan, adik-adik kelas dan sekian banyak orang. Pertanyaan apakah itu?  Ini bukan pertanyaan tentang sidang skripsi saya yang tak kunjung-kunjung tiba, melainkan tentang rencana saya setelah jadi sarjana. Wah, wah, sidang skripsi aja masih ga jelas buat saya apalagi jadi sarjana. Kegalauan ketiga adalah saya bingung bagaimana menjawab pertanyaan yang menjadi sebab kerisauan saya nomor dua. Tuluuuung!

Koq saya bisa galau karena teman-teman saya yang sudah mendapat gelar sarjana. Galau bukan karena saya iri hati melainkan simpati. Bagaimana tidak. Sampai saat ini tidak sedikit dari mereka yang menganggur. Atau ada yang sudah kerja tapi tak sesuai dengan passion yang dulu pernah diucapkan saat menjadi mahasiswa. Begini nih, ga sedikit kan rekan-rekan aktivis yang pas jadi mahasiswa ngaku-ngakunya punya idealisme, demo rektor, demo anggota dewan (saya mah ikut demo masak Farah Quin aja deh kalo ada). Sayangnya kebanyakan dari kita kagak pernah mendemo diri sendiri. Maka lihatlah pas udah lulus, terdesak dengan kebutuhan kerja yang tak jarang menindas idealisme. Hhh, manyun deh lo!

Generasi muda Indonesia saat ini punya jalan hidup rata-rata yang seolah sudah bisa ditebak. Mereka harus besusah payan menghadapi Ujian Nasional yang tetap dipertahankan meski menuai banyak protes. Tidak lulus, ya paket C. Lulus, harus bersusah payah ikut SNMPTN untuk masuk perguruan tinggi idaman. Ga lulus SNMPTN, lari ke PTS. Kuliah dimulai. Kenyataannya, kuliah itu masuknya susah, keluarnya apa lagi. Sudah keluar masih harus berhadapan dengan tantangan selanjutnya. Mengemban gelar “Sarjana Pengangguran”. Pontang panting ke sana ke mari untuk ikut job fair, submit lamaran kerja, menghadiri tes ini itu, dan interview. Lalu ditolak. Ironis.

Salah seorang sahabat saya, lulusan perguruan tinggi beken dan prestasinya keren mengakui kalau saat ini dia pengangguran. Sahabat saya ini mirip Om-om sehingga saya panggil saja Om. Saya sok tahu menebak-nebak kalau Om merasa amat tidak keren saat ini. Bayangin dong dia sudah menaklukan negeri Paman Sam, Eropa dan Asia Tenggara.  Dia punya prestasi sehingga berjaya di negeri orang, tapi tiba-tiba menjadi sarjana pengangguran di negeri sendiri.  Galau kan!

Hal yang sama dulu pernah dirasakan oleh sahabat saya lainnya, sebutlah Nyonyah, yang lulus 4 tahun dengan IPK yang bagusss. Gelar “Sarjana Pengangguran” itu dipikulnya lumayan lama sampai satu tahun.  Kenapa demikian? Sebenarnya Nyonyah punya idealisme yang patut saya acungi jempol. Dia nganggur bukan karena dia ga diterima di perusahaan, melainkan karena pilihan untuk mengejar impiannya menjadi peneliti. Itu saya ketahui melalui obrolan dalam sms:

“Nyah, lo ga minat kerja di Bank atau jadi marketing keq gitu? Gajinya kan nendang bok”.

 “ENGGAK Win, gua ga nyari gaji, tapi jati diri. Hati gua adalah peneliti” jawabanya membuat saya speechless seketika.

Mempertahankan idealisme itu memang tak mutlak tapi memperjuangkan impian atau passion itu memang harus. Maka dia berjuang untuk mewujudkannya. Dia melibas semua cemooh yang datang mungkin dari teman arisan mamanya atau tetangganya. Akhirnya setelah hampir setahun menganggur, dan sempat kerja sebulan di perusahaan, kini gerbang menuju impiannya telah terbuka. Nyonyah sekarang sedang bekerja di salah satu pusat penelitian linkungan PBB.

Nah saya yakin Om pun sekarang sama dengan Nyonyah. Om itu meski pengangguran, tapi tetap keren di mata saya. Tak ada yang sanggup melunturkan aura kerennya itu. Mau jadi pengangguran, perut buncit, bengkok atau lurus atau apa keq, dia tetap keren. Dia sedang mengejar passionnya. Dia sedang diberi Allah untuk menginvestasikan waktu luangnya agar mempersiapkan diri lebih baik menuju passionnya itu.

Begitulah harusnya sarjana di negeri ini. Lulus kuliah harus punya target dan career expectation agar tidak terbawa arus tanpa arah. Tidak asal masuk kantor dan menyingkirkan aspek keilmuan yang di dapat ketika kuliah. Jika setiap generasi muda memiliki passion karir sesuai dengan keilmuannya maka akan menstimulus masyarakat yang berfikir ilmiah untuk memajukan pembangunan Indonesia.

Dalam hati, apa kabar ya teman-teman lainnya yang KUPU-KUPU (Kuliah pulang 2X) atau yang “aktivis” ber IPKnya jelek (kadang kan ada tuh mahasiswa mengkambing hitamkan ke-sok-sibukannya di organisasi sebagai penyebab IPK jelek).

Lalu saya risau, kenapa sih orang-orang ini, mulai dari pejabat kampus, dosen, dan adik-adik kelas begitu terobsesi dengan pertanyaan-pertanyaan yang orang tua saya sendiri saja tak pernah menanyakan. Ayah saya sampai detik ini tidak pernah bertanya: “mau ke mana habis lulus kuliah?” atau “mau kerja di mana nanti?”. Satu-satunya pesan Ayah adalah: jangan buru-buru pulang kampong Karena tergiur gaji buta CPNS di sini (aduh ayah saya sekali-kalinya kalau ngomong bisa memancing huru hara, tapi take easy aja lah).

Saya pun kemudian bingung menjawabnya. Sebenarnya saya sudah punya jawaban. Tapi saya ini adalah tipe yang tidak mau berkoar-koar dulu sebelum saya bertindak. Saya lebih baik memeluk keinginan dan impian saya lekat-lekat dengan sesekali membukanya untuk orang-orang terdekat saya agar menjadi inspirasi buat mereka. Maka setiap ditanya dengan pertanyaan yang membingungkan itu, saya hanya menjawab: kalo ga kerja, ya sekolah lagi, biar segera mulai usaha kecil-kecilan, tergantung rejekinya. Singkat, padat, akurat. Tapi ternyata tidak selesai sampai di situ. Ada yang punya bakat terpendam jadi wartawan infotainment. Mereka ini yang tidak puas dengan jawaban saya, kembali melayangkan pertanyaan: kalo kerja nanti di mana? Kalo mw sekolah rencanaya ke mana? Emang mau buka usaha apa? Saya yang tidak mau repot kembali mengulangi frase terakhir pada jawaban sebelumnya: ya tergantung rejeki.

----
More stories! Please visit http://journeyou.blogspot.com


Amazing Thailand (Lessons from Neighbors Part 2 of 5)

Entah ada atau tidak dalam Al Quran dan Al Hadits, tapi setidaknya empirisku telah membuktikan kata-kata powerful Andrea Hirata dalam Maryamah Kaprov, bahwa
NASIB akan berpihak pada para PEMBERANI.

Keberanian itu  pun telah  menjadi salah satu alasan sehingga saya berkelana lewat udara melalui hampir seperempat belahan dunia, yakni Asia Tenggara, Asia Timur, Timur Tengah dan Eropa Timur. Keberanian itu juga mengantarkanku pada banyak cerita menakjubkan seperti cerita  cinta pertama di Rusia. Maka pada perjalanan kali ini pun saya berharap akan menemukan cerita cinta lainnya di negeri Gajah dan Singa (Meski tak cerita cinta juga tak apa, denk).

Lama perjalanan Singapura –Bangkok sama dengan Jakarta-Singapur yang menempuh waktu lebih kurang 2  jam. Di pesawat menuju Bangkok saya berkenalan dengan seorang esmud (eksekutif muda) berkewarganegaraan Singapura dan kerja di Bangkok. Dia bercerita bahwa di Singapura begitu banyak tenaga kerja ahli dari luar negeri. Tak sedikit juga orang-orang Singapura yang memiliki mobilitas tinggi di ASEAN untuk alasan pekerjaan. CAFTA  membuat kerja di luar negeri menjadi hal yang tak sulit bagi penduduk Asia Tenggara.

CAFTA sebenarnya adalah peluang besar bagi para SDM unggulan dari negeri kembang kempis seperti Indonesia. Orang Indonesia memiliki peluang untuk bekerja di Negara keren seperti Singapura. Namun, CAFTA juga bisa jadi ancaman, karena banyak SDM lokal yang tak siap bersaing secara kompetensi. Lahan-lahan pekerjaan elit dalam negeri bisa-bisa disabet dengan mudah oleh orang-orang dari negeri tetangga.

Kalau kebanyakan teman-teman satu daerahku memiliki passion pulang kampong untuk berbondong-bondong daftar tes CPNS, barangkali saya agak sedikit berbeda. Hanya sedikit bereksperimen dengan  “keberanian” saya berhayal untuk menyicipi pengalaman kerja di salah satu negara tetangga. Jika kau seorang pemberani tak akan mungkin beranggapan kalau ini adalah hal yang berlebihan apalagi alay. Ini bukan soal idealisme yang alay, tapi soal occasion. Peluang CAFTA itu telah ada di depan mata. Sayang kalau hanya orang di negeri tetangga yang kebagian manfaatnya. Sadar atau tidak semua masyarakat ASEAN memiliki hak yang sama akan kesempatan itu, termasuk orang Indonesia yaitu saya dan kau.

Untuk ketiga kalinya saya menginjakkan kaki di Suvarnabhumi Airport. Kesan pertama Amazing Thailand, selogan periwisata negeri gajah ini, langsung tampak setibanya di Terminal kedatangan. Sepanjang koridor menuju imigrasi terdapat lukisan-lukisan budaya Thailand. Ada pula miniatur taman yang lengkap dengan aksesorisnya seperti payung, bunga-bunga dan benda-benda tradisional. Interior yang lekat dengan kesan budaya dan disain arsitektur green building akan mencuri hati siapa saja yang tiba di sana. Kesan seperti ini, sungguh belum bisa ditemukan di Bandara Soekarno-Hatta.

Aksi pertama yang tak pernah terlewat bagi mafia conference yang berpergian ke luar negeri adalah, mengambil gambar di setiap tempat dan peristiwa penting yang mereka singgahi (yang ga penting kadang-jadang juga di ambil koq). Jadi sudah bisa ditebak Penampakan Alai  No.1 yang saya dan Nor lakukan setiba di Airport. Tak peduli bahwa orang-orang memperhatikan kami sambil melambaikan senyuman yang merepresentasikan dua kata pada kami: dasar kampungan. Ckckck!

Aksi kedua adalah mencari tap air minum. Budget yang pas-pasan membuat setiap pengeluaran dipertimbangkan baik-baik. Membeli air minum di pesawat tidak lebih baik daripada membiarkan kerongkongan kering selama beberapa jam. Kami mengeluarkan botol kosong yang sengaja disiapkan jauh-jauh dari Indonesia dan mengisinya penuh-penuh untuk  menghilanngkan rasa haus sekaligus persiapan di jalan menuju venue.

Aksi ketiga adalah menuju toilet. Pagi itu kami akan langsung menuju Rajmanggala University. Hanya cukup dengan cuci muka, gosok gigi dan sisiran, saya yakin tak kan ada orang yang bertanya pada kami: sudah mandi, belom?
*Wakakakak.

“Bib…bib…bib..”  sms masuk.
“Win, aku di Musholla ya. Kamu samperin aku” sms dari anak cerdas bangsa yang akan saya temui berikutnya. Tak hanya cerdas tapi juga berani dan nekad. Lebih tepatnya sih dia bukan anak cerdas tapi bocah nekad.

Aku dan Nor bergegas menuju imigrasi dan keluar. Tak seperti biasanya, kali ini kami tak perlu menuju tempat pengambilan bagasi. Prinsip berhemat itu, membuat kami memutuskan beperjalanan tanpa bagasi, cukup memanfaatkan 10 kg batas maksimum di kabin. Dengan begini, kami berhemat sekitar USD 15/orang. Lumayan kan buat beli souvenir oleh-oleh.

Saya temui Endy Prahyuono di Praying Room. Yang paling saya sukai, Bung Endy punya cara (lagi-lagi) berani dan unik untuk menginterpretasikan nasionalismenya. Tak terkecuali kali ini. Dia ke Bangkok mengenakan Jaket Timnas Garuda. Oh, Garuda di Dadaku banget.  Rambut gondrong, kumis tipis dan mata sipitnya itu, hanya perlu sedikit sentuhan whitening pada kulit, tambahan pedang dan seragam perang, maka dia bisa langsung disulap menjadi pasukan balai tentara Kubilai Khan. Satu paket nasionalisme berani dan unik ala Bung Endy ini telah saya identifikasi sebagai Penampakan Alay No. 2.

Bung Endy, mahasiswa ITS ini bercita-cita menjadi Presiden RI. Hal itu ku ketahui ketika kami mengikuti Summer School of International Youth Forum Seliger 2010, Youth Camp terbesar di dunia, yang juga diselenggarakan di Negeri terbesar di dunia. Dalam kegiatan tahunan Pemerintah Federasi Rusia tersebut, kami mendapat fasilitas dari Ministry of Foreign Affairs-nya berupa tuition fee, akomodasi, transportasi lokal dan visa secara cuma-cuma. Sedangkan  Dirjen Dikti menyediakan dana untuk Airfare. Setelah acara selesai kami pun masih extend di Moskwa selama 2-3 hari dengan fasilitas penginapan dan makan gratis di Flat KBRI. Maknyus kan.

O ya, di tambah lagi fasilitas dadakan berupa free tour guide mahasiswa asal Indonesia bernama Burhan yang menghantar kami ke salah satu destinasi paling popular di dunia, Red Square Moscow (Kremlin, St. Vatsil,etc), beserta gedung pemerintahan dan beberapa bangunan bersejarah dengan arsitektur Eropa kuno dan modern. Sungguh, Seliger dan Moskwa adalah visualisasi dunia mimpi masa kecil yang jadi kenyataan.

Menindaklanjuti cita-cita Bung Endy, maka para delegasi indonesia di Seliger membuat kabinet kecil-kecilan. Bung Endy resmi dinobatkan sebagai Presiden RI dan dipilih menteri-menteri lainya yang orangnya mereka-mereka juga. Saya kebagian jatah sebagai Menteri Lingkungan Hidup. Ga banget yak.

Negeri ini memiliki presiden-presiden dengan catatan sejarah lucu. Ada yang diruntuhkan oleh mahasiswa, ada yang memakai celana pendek di istana negara, dan ada juga yang curhat masalah gaji pada rakyatnya. Maka bayangkanlah, sosok seperti Bung Endy ini jika menjadi Presiden RI kelak, kelucuanan apa yang akan diperbuatnya.

Aku, Endy dan Nor bertemu di suatu titik di lobby Airport. Kami ingin naik kereta ke pusat kota Bangkok, namun bingung. Rupanya salah satu staf Thailand Tourism Authority Service (TTAS)membaca gerak-gerik kebingungan kami.

“What can I do for you?” Mas-mas setengah baya itu menyambut kami, sambil memberikan peta Bangkok pada saya.
“We would like to take Train. Where should we go?” salah satu dari kami bertanya.

Lalu, mas-mas itu menjelaskan pada kami. Setelah mempelajari peta Bangkok, maka kami putuskan untuk naik kereta ke Phayatai yang akan menempuh perjalanan 45 menit. Transaksi pembayaran kereta menggunakan mesin.

Kagok! Tentu. Semua serba otomatis. Tapi tak akan sulit jika membaca petunjuk penggunaan mesin pembayaran. Kita bisa melihat rute kereta dan memilih sesuka hati tempat tujuan dengan touch screen. Harga akan keluar sendirinya di layar. Harga tiket bergantung pada jauh perjalanan. Svarnabhumi-Phayatai berharga sekitar 25 Bath atau setara dengan Rp. 8.300,- (1 Bath=Rp. 330,-). Maka, tinggallah masukkan uang. Pilih yang koin atau kertas. Awalnya sempat bingung, apakah nanti kalau pakai uang kertas, kembaliannya akan keluar. Uji coba pertama dilakukan. Nor memasukkan uang kertas 100 Bath untuk membayar biaya kereta tiga orang dengan total 75 Bath. Lalu, Cring cring, uang kembalian sebesar 25 Bath keluar bersama tiket. Horeee!

Naik kereta serasa lupa dengan segala kelelahan. Adem, ayem, aman dan nyaman. Tidak padat, tidak pula desak-desakan. Saya senyum-senyum memperhatikan isi tas Bung Endy. Satu koper ukuran sedang, dan tas carrier ukuran 60 liter. Bandingkan dengan bawaan saya, satu ransel kecil dan tentengan alakadarnya. Sebenarnya saya dan Nor menitip pop mie sebagai stok logistic untuk berhemat. Tapi ga begini juga, sampe bawaannya banyak seperti orang mau camping setengah bulan.  Pasti ada penyelundupan. Benar-benar mencurigakan. Tinggal tunggu waktu penyidikan. Hanya di in-sert in-ves-ti-ga-si!

 Sesampai  di Phayatai kami mencari taksi. Memilih taksi yang menggunakan meter lebih direkomendasikan, untuk itu harus ditanyakan terlebih dahulu pada sopir apakah meter atau borongan. Jangan pernah langsung membuka pintu, melainkan mengetuk kaca terlebih dahulu jika ingin berkomunikasi pada sopir. Dengan waktu perjalanan tak lebih dari 45 menit dan ongkos sekitar 70 Bath, kami sudah sampai di Rajamangala University, Thewet.

Saya terkesan dengan penyambutan di Bangkok oleh interior bandara yang mengkolaborasikan unsur tradisional dan modern sehingga membuat pendaratan pertama di Bangkok amat berkesan bagi wisatawan.   Ada petugas TTAS yang akan selalu menyambut hangat setiap kedatangan. Lalu, transportasi menuju kota berupa kereta keren dan murah. Semua merupakan buah keberanian pemerintah Thailand untuk berinvestasi pada airportnya. Bangkok, melalui Suvarnabhumi, benar-benar menyambut siapapun yang tiba dengan siap dan sepenuh hati. Dari mulai turis backpacker, mahasiswa alai, hingga para eksekutif.

Kontras dengan kondisi terminal kedatanan di Bandara Soekarno Hatta. Begitu turun dari pesawat, tidak ada lukisan, maupun  interior menarik untuk berfoto bagi mahasiswa alai. Keluar dari imigrasi pun, tak akan pernah ada yang akan menyodori peta Jakarta apalagi tempat tourism service untuk bertanya-tanya. Yang ada adalah para penumpang akan disambut oleh keributan sesaat dari para penjaga Money Changer, agen travel dan sopir taksi yang menawarkan jasanya. Ribut layaknya pasar tanah abang. Andai saja pemerintah Indonesia sedikit lebih berani untuk merevitalisasi sektor pariwisata dengan usaha-usaha yang lebih nendang, mungkin-mungkin saja nasib akan berpihak padanya.

-----
More stories! Please visit http://journeyou.blogspot.com/

Senin, 07 Maret 2011

Catatan Kecil tentang Biotek

Untaian Al Fatihah beserta ayat lainnya yang baru saja dibacakan imam dalam shalat Magrib di Masjid Agung Al Azhar memberikan guyuran kesegaran pada jiwa saya. Malam pun telah datang hingga saya merindukan sesuatu. Sangat merindukan sesuatu itu. Apakah sesuatu itu. Sesuatu itu adalah TIDUR.

Iya dong. Saya bela-belain begadang beberapa malam untuk menyelesaikan beberapa tugas. Bukan tugas kuliah apalagi skripsi melainkan tugas dari bos dan proyek-proyek keren hingga Mei nanti. Semalam aja nih, saya baru shut down notebook pukul 1 dini hari. Baru bisa tidur setengah jam setelahnya. Bangun pagi-pagi buta untuk menunaikan shalat subuh berjamaah.  Tidur setelah subuh? Jangan harap! Sebab saya harus mengutak-ngatik kerjaan Environmental Framework Tools-nya British Council.  Sebelum jam 9 harus buru-buru ketemu bos buat lapor dan menerima tugas lainnya. Seharian, lumayan banyak hal yang saya lakukan. Mampir ke kedutaan Turkey, dengerin ceramah dari pak Dubes Iran untuk Indonesia, ngurus-ngurus rekening organisasi ke Bank, kirim email ke calon sponsor, facebookan, dll!

Niat saya memang cepat-cepat pulang tapi mampir dulu ketemu adik kelas untuk membicarakan tentang ancang-ancang urusan pelesir ke Negara berikutnya yang terkenal pelit dan rempong dalam urusan visa.

“ke Tendu aja kak” sms dari junior saya.

Dalam hitungan detik saya langsung meluncur ke Tenda Biru. Kalau malam-malam begini tenda biru ini memang sangat aneh. Meski remang-remang, tapi masih aja rame sama mahasiswa yang makan, ngobrol, cekakak-cekikik ga jelas dan pacarran (aih! Sumpeh  lo? Beneran, saya pernah mergokin ada yang berduaan. Kalian tau sendiri lah modusnya apa berduaan malem-malem, gelap-gelapan begini. Ya kan, ya kan. Beruntunglah mereka saat itu karena saya bukan anggota komplotan FPI. ckckck).

Yang lebih aneh lagi adalah pihak pengelola kampus Universitas Al Azhar Indonesia. Pelitnya bukan main. Ga ada kek inisiatif buat menambah lampu tiang buat menerangi aktivitas mahasiswa malem-malem di sini. Jadi kan ketahuan apa yang mereka lakukan dibalik tenda remang-remang ini. Terlepas dari itu, penerangan amat dibutuhakan karena tak jarang mahasiswa berdiskusi tenang program organisasi di sini.

“Naaaah, ini dia buronan yang dicari” suara kompak menyambut kedatangan saya di Tendu.

Walah-walah ternyata udah pada rame. Lagi arisan ya Pak? Kocokannya udah selesai? Siapa , siapa yang narik minggu ini. Hehehe!

Adek-adek saya ini tampaknya sedang diskusi. Adek-adek? Koq saya serasa menuakan diri sendiri. Mungkin lebih baik sebut “rekan-rekan”. Lagi pula di situ ada rekan satu kelas saya. Sebenarnya saya udah berfikir mau kabur aja karena ngantuk dan lapar bukan main. Tapi koq, ada sesuatu yang menarik hati di sini. Apakah itu? Keripik singkong balado. Akhirnya demi keripik singkong balado, saya pun bertahan.

Baru lima menit bergabung tiba-tiba oooh rasa kantuk itu semakin membabi buta saja. Tiba-tiba merasa ga ngerti deh apa itu kurikulum, twinning program, akreditasi program studi,  brosur promosi yang jelek, staf sekre yang jutek, lalala, apa lagi…pokoknya tetek bengek yang lain lah. Saya merasa jadi orang terbodoh dan tercuek di program studi. Sekaligus saya merasa cemburu sama rekan-rekan ini yang begitu care dengan nasib program studi (Prodi) dan adik-adiknya ke depan.  Belum jadi alumni saja saya udah kayak gini ya, apalagi kalau udah.

Cerita punya cerita ternyata mereka merasa resah dan gelisah. Apa sebab? Kalau dari yang saya tangkap sih, alasan mendasarnya adalah naluri mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi untuk masa depan Prodi yang lebih baik, dan kurangnya komunikasi antara yang tua dan yang muda. Lah, yang tua itu siapa yang muda itu siapa ya? Pikir aja sendiri!

Poin pertama adalah tentang keabsahan informasi yang diberikan di brosur mengenai twinning program (TW) dan program studi Biologi (Bioteknologi). Katanya sih TW itu belom ada MoUnya dengan ITB. Terusnya gara-gara TW kurikulum kita mesti disetarakan dengan prodi Biologi ITB. Sepertinya lumayan banyak rekan-rekan ini yang ga rela mata kuliah Bioteknologinya di revisi gitu aja. Saya juga ga rela dong. Secara, pada berbondong-bondong masuk UAI kan karena Bioteknya bow, bukan Biologinya. Kalaupun memang sudah dirubah, maka harus ada singkronisasi dengan informasi yang disampaikan di website dan brosur tentang kurikulum, sehingga menghindari kesan penipuan berkedok promosi. Kenapa sih harus TW ke ITB. Prodi saya kan sudah cukup keren tanpa ada TW. Sepakat?

Terus,  tau ga sih kalau ada rekan satu Prodi kita yang masih mempertanyakan tentang: kita ini prodi Bilologi atau Bioteknologi sih? Ini mah harusnya ditanyain sebelum daftar ke UAI, brow! Di Dirjen Dikti sana kita ini terdaftar sebagai program studi Biologi dengan konsentrasi Bioteknologi. Di Universitas lainnya juga pada kayak gitu. Program studi Biologi mereka punya konsentrasi di Mikrobiologi, Tumbuhan, Hewan, dll. Nah, kalo mw bikin program studi baru bernama Bioteknologi, bakalan susah menembus alur birokrasi ribet ala Indonesia ini.  Selain ribetnya mekanisme pengajuan prodi baru, Bioteknologi di Indonesia untuk level S1 itu masih belum feasible. Bukan hanya sebatas fasilitas loh, tapi juga otak mahasiswanya terbatas. Khususnya saya sendiri yang rada2 lemot ini. Jadilah UAI bikin prodi Biologi yang disesuaikan buat kemampuan mahasiswanya dan tetap menonjolkan salah satu tantangan sains dan teknologi terbesar di abad ini yaitu BIOTEKNOLOGI.

Yang tak kalah penting adalah persoalan brosur promosi yang amat tak menarik hati. Konon katanya proyek itu memang sudah dari dulu dipegang oleh bagian promosi dengan hanya sedikit konsolidasi dengan bagian Prodi. Penggarapannya seperti foto-foto, disain diserahkan ke teman-teman FOCUZ (seingat saya yah). Jadilah kurang memenuhi sense Biologinya. Saya juga sependapat. Satu-satunya hal yang menarik hati saya untuk membaca brosur itu adalah karena di situ ada foto saya dan testimoni sebagai mahasiswa. Ketahuan narcisnya.

Selanjutnya, ada salah satu peserta arisan yang ingin menyapa: Apa kabar KMPS Biologi UAI? Wah ini ga berani komen. Kagak ngarti apa-apa saya. Mungkin nanti saya tulis note terpisah setelah ngobrol-nobrol sama ketuanya.

Terakhir adalah mengenai solidaritas alumni. Katanya panitia pelaksana sangat mengharapkan alumni untuk berpartisipasi dalam acara nanti. Tapi koq sampe detik ini yang konfirmasi datang masih bisa dihitung dengan jari. Kasian adek-adeknya udah capek-capek bikin kegiatan tapi kalo yang datang sepi. Jangan sampai deh. Gara-gara ini saya pun dapat tugas dari rekan-rekan ini untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya teman-teman 2006 ke acara yang akan diselenggarakan pada 11 Maret 2011 di Auditorum Afirin Panigoro itu. Saya memang harus berjuang buat membantu rekan-rekan ini menyambungkan silaturahim keluarga besar Biologi (Bioteknologi) yang sudah berumur satu dekade ini. Hitung-hitung saya juga udah kangen berad sama sobat-sobat seperjuangan satu kelas. Jadi buat teman-teman 2006 kita dateng yuuuuk. Dan jangan lupa bayar iurannya Rp. 30.000,- ke panitia (www.numpangiklan.org) .

 Lantas, gimana dong cara menyampaikan masukan ini?
“Kita harus satu suara dulu. Satukan persepsi kalau ini bukan karena memojokkan satu pihak tapi untuk kebaikan semua pihak” ucap salah satu peserta arisan.

“Nanti yang ngomong ga usah banyak-banyak cukup satu aja trus palingan diback up sama satu orang lagi” cetus peserta lainnya.

“Tapi pastikan dulu jadwal sharing nanti di Acara Temu Alumni bakalan dihadiri sama yang tua. Kalao mereka udah pada pulang, kan percuma” seseorang lagi menambahkan.

Yo wis! Diskusi pokok malam itu selesai.  Semua sudah satu persepsi. Baiklah kita tunggu saja tanggal mainnya. Semoga saya dan rekan-rekan bisa melakukan yang terbaik di temu alumni nanti.

Saya pulang dengan perut meronta-ronta. Maag ini semakin akut saja. Di jalan saya sambil berfikir tentang kemungkinan-kemunginan saya selanjutnya untuk membuat prestasi membawa nama baik almamater di tingkat internasional. Saya memang udah ga mau banyak cing cong jadi mahasiswa, sejak masuk semester 7. Capek dan merasa sudah bukan jamannya lagi. Ga keren banget kalau saya protes ini itu tapi IPK saya jelek atau prestasi saya ga ada yang bisa dibanggakan buat almamater.  Kan mayun. Mending saya jadi mahasiswa yang lebih mengedepankan prestasi dibanding protes. Eits, saya bilang “lebih mengedepankan”, bukan “hanya mengedepankan”.

Soal urusan kurikulum dan system kan ada yang lebih pintar, yaitu yang tua-tua dengan gelar Master dan Doktor bahkan Profesor. Dalam hati, saya sepenuhnya percaya mereka pun sama seperti saya dan rekan-rekan saya yang menginginkan yang terbaik untuk prodi saya yang keren ini. Ga mungkin deh mereka mau mencalakakan kita dan prodi tercinta. Kalau salah-salah dikit, yaw wajar lah mungkin khilaf atau overload. Namanya juga manusia. Tinggal kasih masukan aja. Bagus-bagus kita bantu dengan tindakan konkrit. Saya yakin ACTIONS SPEAK LOUDER THAN WORDS.

Koq tiba-tiba saya jadi keingetan sesuatu. Apa itu? Eing eing…. Sidang skripsi apa kabar? Udah ga ngerti lagi. Ga usah sidang juga ga apah dah. Hahah.

---------
More stories! Please visit: http://journeyou.blogspot.com/

Jumat, 04 Februari 2011

I’m ALIVE (Lessons from Neighbors Part 1 of 5)

“Buku adalah jendela dunia, namun tak cukup melihat dunia dari balik jendela (buku). Kau harus ke luar untuk merasakan dunia yang sesungguhnya. Sekali kau berhasil melangkahkan kakimu di luar sana, maka kau seakan bebas untuk melepaskan langkahmu selanjutnya ke belahan bumi lainnya”. (SoGA-Syndrome of “Go Abroad”) “…

"bib bib..” suara nada pengingat pesan di hapeku.

SMS dari sahabatku Deby “Nyonyah” Fapyane.“Win, aku keterima internship. Ke Korea  lagee!” tak sempat menghela nafas, aku langsung menelpon Deby untuk mengucapkan selamat.

Aku luar biasa senangnya, meski beberapa detik sebelumnya aku manyun marun tidak biasa, setelah menerima email dari SEAMEO SPAFA yang berisikan:

Dear Edwinnata 
Thanks so much for your continued interest in the upcoming Youth Forum on Climate Change.The response to this event has been tremendous and over 100 abstracts were received for paper presentations. Sadly we can not accept all and also our funds are limited. Unfortunately we are not able to offer you sponsorship to attend the Forum.I am very sorry about that but should you be able to find your own funding you are certainly most welcome to attend as a participant. 
With best wishes, 
Kevinkevin@seameo-spafa.org

Itu adalah buah karya kebodohan otak kirikiku. Aku mengira ini adalah acara Scientific Meeting layaknya The 7th UNU&GIST Symposium yang aku ikuti dua tahun lalu di Gwangju Institute of Science and Technology, Korea Selatan. Saat itu aku berjaya karena abstrakku diterima  untuk dipresentasikan di acara yang diselenggarakan oleh pusat penelitian lingkungan PBB, International Environmental Research Center. Kejayaan itu bertambah lengkap setelah aku tahu bahwa hanya ada satu-satunya mahasiswa S1 yang terselip di antara mahasiswa S2, S3, doktor dan profesor dalam acara itu. Mahasiswa S1 itu tak lain adalah si bastard bernama Edwinnata.

Kini semuanya berbeda. Di acara Asia Pacific Forum: Youth Action on Climate Change through Cultural Expression ini aku masih saja mendaftarkan abstrak ilmiah. Abstrak ilmiah tentang mikro alga yang berisikan data dengan angka-angka konsentrasi minyak hasil ekstraksi, kadar  produktifitas  dan lalalalala. Sama sekali tak menyadari kalau di tema acaranya ada prase “Cultural Expression”. Mikro alga mana ada hugungannya sama cultural expression.Allah memang mengiringku untuk tidak main-main lagi, karena harus menyelesaikan sidang skripsi yang terdunda berapa kali. Kalau sidang tertunda, akan banyak dampak terhadap penundaan rencana lainnya.

Aku pun sudah mulai bosan dengan lusinan pertanyaan “kapan sidang?”, “udah sidang?”, sampai ada yang bilang “ga usah sidang sekalian saja!”. Entah sudah berapa orang yang bertanya, dari mulai satpam, marbot masjid Al Azhar hingga Wakil Rektor, dari mulai bertanya langsung, sms, hingga menulis comment di facebook. Bahkan baru saja aku tahu kalau draf skripsiku yang telah lama disimpan di rumah pembimbingku itu telah beralih fungsi menjadi buku corat-coret dan menggambar anaknya yang berumur 5 tahun.

Kesimpulannya adalah: ke Bangkok Workshop SEAMEO SPAFA?  Tidak untuk kali ini! Kapan-kapan saja!

***
Astaga! Kabar buruk. Kondisi seperti ini kenapa kerap kali terulang. Sama seperti keberangkatan pertamaku ke Bangkok tahun lalu aku baru berangkat ke bandara 40 menit sebelum check in desk ditutup. Masih kabar buruk, sama seperti perjalanan ke empat Negara sebelumnya, kali ini pun aku harus ditemmani oleh seorang gadis. Perjalanan bersama seorang gadis terkadang bisa menjadi berita gembira, tapi juga bisa menjadi bencana. Tatkala itu adalah istri atau istri wannabe maka itu adalah berita gembira. Bencana bila itu adalah sahabatmu yang membawa begitu banyak bawaan, hingga harus dititip di tas yang dibawa ke kabin atau bagasi. Tapi ini pelajaran berharga. Setidaknya aku bisa menjadikan simulasi kecil sebelum nanti berpetualang bersama pendamping hidup. Hehe.

Kabar baiknya, kali ini aku bukan memilih maskapai dengan branding “The Best Low Fare Airlines”, melainkan maskapai yang masih satu group dengan maskapai nasional negri Kangguru. Masih kabar baik, aku jua akan transit di Changi International Airport, Singapura. Sekali mendayung dua tiga pulau terlangkaui.

Lah, tunggu dulu. Bukannya di awal bilang kalau tidak akan ke Bangkok. Tapi sekarang tiba-tiba sudah mau menuju meja check in untuk berangkat ke negeri Singa dan negeri Gajah?  Ceritanya agak panjang. Perlu 13 mulut seperti yang dimiliki salah satu temanku bernama Raymonce Sembiring untuk menjelaskannya. Singkat kata, aku mendapatkan dana dari salah satu institusi pemerintah. Minta ke Universitas sangatlah tidak mungkin. Sepanjang 2008-2010 aku menjadi mahasiswa yang paling banyak menandatangani kwitansi di Bagian Keuangan, baik itu untuk kegiatan proyek internal kampus, organisasi, maupun perjalanan kegiatan dalam dan luar negeri. Meski kata teman-teman urat maluku sudah putus karena terkadang kurang mapan dalam mengendalikan diri, tapi aku masih punya rasa tau diri.

“Win gw udah check in. lo di mana?” sms dari Nor, yang akan menjadi partner petualangan kali ini.SMS Nor tak ku balas, karena aku sedang melahap makan malam di taksi sambil mengimbangi goncangan-goncangan kecil dalam mobil akibat rem-rem mendadak atau banting stir.Aku masih selamat karena masih bisa check in dan melewati imigrasi tepat waktu.

Akhirnya bertemulah dengan gadis belia nan jelita yang memiliki nama lengkap Nor Rofika Hidayah. Aku punya banyak teman-teman berprestasi dari penjuru negeri. Salah satunya adalah Nor, Mapres tingkat fakultas di Kampus yang terkenal dengan Jakun. Yang paling special dari Nor adalah nama bekenny:  Icrut. Benar-benar unik dan entah dari mana asal muasalnya. Tapi pasti ada sejarahnya.Pertama kali bertemu Nor sebagai sesama finalis di Danamon Young Leaders Award (DYLA), sebuah kompetisi bagi green leaders dari seluruh Indonesia. Para DYLAers adalah pemuda-pemuda yang konsisten di bidang lingkungan dan sustainable development. Prestasi-prestasi mereka tak kepalang tanggung hingga membawanya berhasil ke luar jendela.

Dalam hal berburu tiket murah, Nor juga konsisten. Dia yang selalu menuggui dinamika harga tiket maskapai-maskapai penerbangan murah. Nor pula lah yang pada akhirnya membuatku memutuskan untuk memilih maskapai yang transit di Singapura. Berteman dengan para anak bangsa yang cerdas memiliki banyak keuntungan, terutama karena mereka memiliki kemampuan problem solver yang baik dan jaringan yang luas (hingga lebih 1000 GPS di seluruh Indonesia dan kapal pelni. Numpang iklan). Di Bangkok nanti aku tak hanya bertemu teman-teman cerdas dari tanah air, melainkan se Asia Pasifik.Panggilan untuk naik ke pesawat sudah terdengar.

Aku bersiap lepas landas untuk menuju negri ke lima.

Langkah-langkahku menuju pesawat seakan diiringi oleh lirik lagu I’m Alive, Celine Dion:... 

I get wings to fly,
I feel that I’M ALIVE….

---------
More stories! Please visit: http://journeyou.blogspot.com/

Minggu, 09 Januari 2011

Ketika VMJ Menyerang Aktivis (Part 3 of 3)

***
Setelah mengucapkan salam aku pun beranjak ke hotel untuk memenuhi janji dengan seorang pejabat pemerintah. Salim hebat, pikirku. Dia memang dua tahun lebih tua dariku. Lulus dari Pesantren dia sempat kerja setahun sebelum akhirnya masuk ke bangku kuliah. Dia paham betul apa itu yang dinamakan hijab, pergaulan dalam islam dan pernikahan. Dia sudah mempraktikannya sendiri. Soal menikah pun tak semerta dia putuskan sendiri melainkan dikonsultasikan ke orang tua dan murrobinya. Dukungan dari mereka lah yang membuat hatinya mantab. Saat ini dia sudah lepas dari tanggungan orang tuanya, meski pada akhirnya ada hal lain yang harus tertangguhkan untuk sesaat. Aku salut padanya. Aku sendiri masih sibuk dengan dakwah, kuliah dan tarbiah. Menikah? kapan-kapan saja lah!! Aku pikir Anya adalah pasangan yang serasi untuknya, tapi kalau bukan jodoh mau gimana lagi. Sesampainya di hotel jam 8 malam, ada SMS masuk. Ternyata dari Anya.

"Aslm. Akh, apakah Mabit pekan ini antum yang koordinir. Btw, sudah makan mlm?"

"Ya. Nanti saja dibicarakan. Saya sedang mengurusi sesuatu di Hotel. Makan? ga’ ingat tuh. Mau delivelry ke sini?"

"Di Hotel? Jadi ingat kisahnya Furqon di KCB. Hati-hati ya didatangi cewek cantik pembawa HIV AIDS. Wah, telat makan artinya antum mendzalimi diri sendiri."

"Makan telat dikit ga apa lah. Hah, beginilah kalau belum ada yang ngurus, Bu!"

"Walah2! Ana buka biro jodoh loh. Mau cari yang pertama, kedua. Mw yang pintar masak/tadarus/bahasa Inggris. Mw orang sunda/jawa/melayu/betawi. Silahkan pilih sesuka hati. Ketik reg<spasi>kriteria kirim ke 2009. Tarif gratis."

Tiba-tiba aku teringat komitmenku tadi. Astaqfirullah. Kok mulai lagi candaannya. Tampaknya aku benar-benar harus memastikan dugaan tenang Anya dan Agung. Masa calon istri orang SMS seperti ini pada seorang ikhwan, malam-malam begini pula. Ehmmm, nampaknya harus ada tindakan sedikit ekstrim. Sudah terlanjur basah bergurau lewat SMS, dan semoga ini yang terakhir

"Emmm, kl ana mau tipe seperti Akhwat yang sedang membaca SMS ini, boleh tidak? Mungkin untuk lebih konkritnya ana akan kirimkan proposalnya 3 hari lagi."

Tepat tiga hari setelah itu aku mengirimkan surat dan proposal bersekenario. Agak beresiko memang, sebab itu tidak dibuat secara serius. Aku agak was-was, bagaimana jikalau Anya memberikan respon positif. Tapi tenang! Feeling ku mengatakan aku akan mendapat jawaban yang aku inginkan.

Sudah lebih satu minggu, tapi tak ada surat balasan. Wah, gawat. Kalau dia benar-benar telah menerima seseorang di pelabuhan hatinya, maka tak kan butuh waktu sehari untuk menolakku. Bahkan ditolak di tempat pun jadi. Bisa-bisa dia memang masih kosong sehingga mempertimbangkan lamaranku. Aku mulai gemetar. Namun,positive feelingku mengatakan, mungkin dia perlu waktu untuk memilih kata-kata yang halus dalam surat balasannya agar tak membuat penerimanya tersakiti. Aku tetap tak sabar sampai akhirnya aku mencoba mencari jawaban itu langsung pada Agung.

“Akh, bagaimana dengan kelanjutan perasaan antum terhdap Anya?” tanyaku

“Memang kenapa akh. Ada angin apa tiba-tiba antum menanyakan itu?” pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Sungguh cara berkomunikasi yang kurang baik.

“Bagaimana kalau ana juga menaruh hati padanya?” aku memancing.

“Innalillah. Em, Ana tidak bisa membayangkan kesudahannya kalau dia tahu soal ini. Dilematis sekali. Ana tak ingin mengalah dan antum juga tentunya. Ana tak ingin ada yang tersakiti. Ana hanya menyarankan kita tinggalkan saja Anya. Ini lebih aman. Wanita di dunia ini kan yang soleha dan cantik tak hanya satu saja. Stok masih banyak”

“Akh, ana sudah terlajur berniat mengkhitbah Anya” Aku menatap Agung dengan tajam. Benar-benar serius. Agung langsung tegan.

“Tidak bisa! Tampaknya ana harus menceritakan yang sebenarnya. Afwan ana tidak sharing terlebih dahulu pada antum. Sebenarnya dua bulan yang lalu ana sudah mengkhitbah Anya terlebih dahulu. Alhamdulillah dia merespon positif dan kami berkomitmen untuk melanjutkan hingga ijab Kabul.”

Sesaat kemudian aku menerima SMS dari Anya.

"Afwan Ola, aku belum membuka pelabuhan itu untuk siapapun saat ini. Aku belum siap. Tapi kita tetap sahabat. Saudara seiman dengan cinta karena Allah."

Apa-apaan ini. Ingin rasanya aku menunjukkan SMS tersebut pada Agung. Namun akal sehatku masih bekerja. Lalu aku memeluk Agung sembari mengucapkan selamat padanya.

“Mabrukh akh, ana akan mendoakan antum agar secepatnya menuju hari ijab qobul.” Lalu aku meninggalkannya.

Sambil berjalan, aku berfikir keras. Kenapa menjadi begini. Kenapa Agung tak cerita pada ku dari awal tentang khitbah dan jawaban Anya, padahal dulu kepadaku lah dia sharing tentang perasaannya pada Anya. Masih jelas di benakku tausiah yang aku sampaikan padanya. Semoga dia tak sampai meyimpang dari nasihat. Anya!! Mungkin dia malu bercerita yang sebenarnya. Analisaku mangatakan kalau seorang akhwat ordinary telah menerima khitbah dari seorang ikhwan ordinary, maka ketika ada ihkwan lain yang memintanya, keharusannya adalah mengatakan dengan tegas yang sesungguhnya. Tapi kenapa begini jadinya. Ruwet. Aku hanya melihat yang terjadi di antara mereka seperti layaknya suatu ekspeimen saja, bergerak underground, dan kurang bertanggung jawab. Seakan tidak sabar menanti kesudahannya.

***
Kami sedang bersuka cita menyambut kelahiran putri Salim. Lalu aku teringat pada dua sejoli yang belum juga menyempurnakan separuh agamanya setelah hampir setahun mereka menyatakan komitmen bersama. Ta’arufan? Lama sekali. Kalau pacaran saja ada yang hanya berumur satu bulan meski ada yang sampai bertahun-tahun. Kalaupun lantas putus di tengah jalan. Mengapa Agung tak ada konfirmasi. Seakan mengblokir seorang akhwat yang dinanti banyak ikhwan, padahal dirinya sendiri tak ada kepastian untuk sesuatu yang harus dipastikan kesudahannya.

***
Hari ini aku akan bertolak ke Sydney setalah tiga bulan lalu mendapat surat pemberitahuan kalau aku sebagai salah satu fresh graduate yang lolos program ADS untuk melanjutkan S2 di Adelaide University. Hingga saat ini hubungan Anya dan Agung tak ada kabarnya. Aku hanya berharap keduanya baik-baik saja. Sebelum naik ke pesawat ada SMS masuk.

"If ten people care of you, I must belong to. If only one people care of you, that must be me. If no one people care of you, it means that I’m not in this world anymore.

Kemudian satu SMS lagi terkirim dari nomor yang sama

"Ketentuan jodoh itu, sekuat apapun tenaga, sebesar apapun badai dan sekeras apapun ikhtiar manusia, tetap tak akan bisa merubahnya. Ola, meski kamu tidak mau memberi tahu ke mana kamu akan pergi, aku tetap mendoakan semoga segala urusannya dimudahkan oleh Allah. -Anya-"

SEKIAN

Ini hanya sebuah ilustrasi. Terinspirasi dari cerita kawan-kawan. Jika terdapat kesamaan dalam nama dalam tokoh, inshaAllah hanya kebetulan saja. Di sana ada 3 substansi yang penting:

1. Bagaimana karakter Abdullah dan Anya apa yang terjadi antara keduanya. Abdullah bisa dibilang seorang new entry dalam lembaga dakwah kampus yang harus belajar banyak tentang apa itu yang dinamakan dengan hijab, dan urgensi kesungguhan untuk akselerasi dalam menjalani tarbiah. Di lingkungan kita tidak sedikit bukan tipe seperti Abdullah ini? Baik itu Ikhwan maupun Akhwat. Setidaknya itu yang dulu saya ketahui dan lihat ketika masih kulian di UPI, Bandung. Mereka tak cukup mendapat tarbiah melalui halaqoh saja, tapi perlu dukungan dari teman-teman yang sudah menjalani tarbiah dari SMA/Pesantren. Bagaimana dengan Anya? Kira-kira gimana ya. Apa yang terjadi antara keduanya (SMS dan candaan) cukup bisa membantu kawan-kawan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

2. Apa perbedaan antara niat dasar Salim dan Agung dalam mengkhitbah Anya.

Nah, ini dia! Pernah mendapat sahabat kawan-kawan kesemsem sama seseorang sehingga tumbur rasa yang belum seharusnya dipelihara dalam hati. Ada tipekal ikhwan yang ingin menikah, karena kebelet suka sama seorang akhwat. Dia berangkat dari alasan yang membahayakan diri sendiri. Ini barangkali terjadi pada kasus Agung. Ketidaksanggupannya menahan rasa membuatnya memaksakan diri untuk mengungkapkannya seakan khawatir kehilangan bidadari pujaannya. Padahal kalau sudah jodoh tak kan ke mana. Karena tanpa fakir panjang dan mempertimbankan sharia, konsekuensinya harus ditanggung sendiri. Mungkin menderita karena bendungan perasaan tadi tak cukup kuat, atau tak ada pelampiasan rasa cinta di hati karena t'lah saling menerima antara keduanya, atau rasa cemburu ketika si akhwat dekat dengan ikhwan lain atau sebaliknya. Lalu fitnah pun berpotensi menyebar.

Tapi ada tipe ikhwan yang berniat menikah karena motivasi selain akhwat, seperti yang terjadi pada Salim. Lalu akhwat adalah sebuah factor pendukung agar dia bisa menjawab masalah dibalik keinginannya untuk menikah.

Tak ada yang salah ataupun benar di antara keduanya. Semuanya baik jikalau semua dicover niat karena Allah. Yang ada hanya keharusan untuk berhati-hati, karena ini masalah hati.

3. Bagaimana kesudahan hubungan Anya dan Agung? juga Abdullah? Ada yang punya masukan kira-kira sebaiknya gimana ya. Saya pikir SMS terakhir adalah akhir dari klimaksnya. Jadi khusus untuk ini tak usah dilanjutkan saja yah.

"Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh syetan sebagaimana halnya dia (syeitan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari syurga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya"(QS. Al A'raaf:27).

Mohon maaf atas segala hilaf. Semoga bermanfaat.
Wallahualam bisawab

Ketika VMJ Menyerang Aktivis (Part 2 of 3)

****
“Saya putuskan…untuk belum dulu menerima siapapun termasuk Akh Salim.” Jawaban yang amat membangun. Suasana hening sejenak.

"Shukran. Ana hanya perlu jawaban itu. Itu saja tidak lebih” Salim melepas senyumnya.

“Saya telah berkomitmen untuk menyelesaikan Studi S1 terlebih dahulu, begitu juga dengan orang tua saya. Afawan akh, barang kali Allah telah menyiapkan seorang bidadari yang lebih baik untuk antum”

Salim pergi meninggalkan Anya. Dia langsung memberi tahu hasilnya pada ku via SMS. Kami bertemu untuk membicarakan langkah selanjutnya. Langkah selanjutnya menurutku adalah aku harus mentraktirnya makan nasi goreng plus minuman jus jambu kesukaannya. Aku melihat wajah kecewa, meski dia berguman telah ikhlas.

Tahu sendiri lah rasanya ditolak. Mungkin ini yang namanya Broken heart. (Bagi yang pernah merasakan mungkin bisa berbagi pada yang lain. Di belakang panggung saja. Jangan kasih comment di sini, ntar dikira curhat). Salim membuka deretan SMS tausiyah dari Anya yang masih awet tersimpan di HPnya. Lalu dihapusnya satu per satu. Sebuah tindakan yang tegas. Nama Anya memang harus segera remove dari hatinya. Tapi ukhuwah tetap terjaga. Rencana pertama telah hangus. Saatnya bersiap untuk rencana ke dua.

Dua bulan kemudian, telah tersebar kabar bahwa Salim akan menikah pada pertengahan tahun ini. Alhamdulillah. Jodohnya ternyata bukan juga dengan si akhwat B. Ternyata menyiapkan planning B tak cukup, harus ada planning C. Saat walimahan aku merasakan sedikit aura energi negative dari Anya. Beberapa hari setelah itu pun dia sulit dihubungi dan terlihat lebih sering menyendiri. Mungkin dia memang ada perasaan terhadap Salim dan sedang mengkondisikan diri. Tapi keputusannya tepat untuk membuat prioritas dalam hidupnya sehingga semua bisa tertata rapih.

Akhwat seperti Anya tak seharusnya merasa patah hati, pasalnya nanti juga banyak yang ngantri.
Kembali bertemu dengan hari Sabtu. Bedanya kali ini dilemma semester kemarin tak lagi terjadi. Pasalnya aku tak perlu terusik oleh kerja part time sebab aku telah mendapat beasiswa mencakup biaya kuliah dan hidup. HPku berbunyi tanda SMS masuk.

“Akh, habis liqo. Ana pengen ngobrol. Urgent.” SMS dari Agung.
Hatiku mencurigai sesuatu. Isi SMSnya sama dengan SMS Salim waktu dulu. Jangan-jangan.....

***

"Ola, kenapa ya perasaan itu serasa aku nikmati. Setiap kali bertemu dan aku mencuri-curi pandang untuk memandang parasnya yang meneduhkan hati itu itu. Apa aku utarakan saja."

“Halah, Gung, Gung. Sampean kena sihirnya Anya. Asal kamu tahu yang konsultasi kayak gini ke aku tuh bukan Cuma satu orang. Makanya aku bosen. Trus kalau diutarakan habis itu mw ngapain? Ngapain nt utarakan, yang benar itu nt lamar supaya diajak nikah.”

“Nikah. Pastilah nanti setelah lulus. Tapi aku ingin mengutarakannya sekarang”

“Waduh, celaka kalau begitu. Trus selama satu tahun setengah menunggu kamu lulus kalian mau ngapain. Manahan derita atas perasaan yang salah haluan?”

“Taaruf?”

“Wah, sepertinya antum perlu ana ajak ke murrobi supaya dapat pencerahan. Kalau diutarakan sekarang bulan depan antum nikahi ya tak apa. Tapi kok masa nunggu tahun depan. Mau zina hati, dan terjerumus zina mata akhirnya zina tingkat tinggi. Saranku kalau memang belum siap penuh, tahan saja.. Alihkan perasaan itu. Hingga akhirnya mati. Toh, kamu ga akan rugi. Ketetapan atas jodoh itu, sekuat apapun tenaga, sebesar apapun badai, dan sekeras apapun usaha manusia, tetap tak kan bisa merubahnya. Ikhlas, sabar dan tawakal."

Kembali aku harus mengulangi kata ini: “DILEMATIS”. Nampaknya sedang musiman VMJ di LDK. Anya memang baik terhadap semua orang. Dia bersikap lembut dan ketika berbicara suara lembutnya itu barang kali sanggup membuat sebagian besar ikhwan normal berdesir hatinya. Pujian tentang dirinya tak hanya aku dengar dari teman-teman, tapi juga dosen. Sungguh memikat hati. Terlebih dia sering memforward SMS tausiah kepada para pengurus LDK. Ini sebenarnya jadi peluang bagi seorang ikhwan yang keGeEran.

Adalagi terkadang kedermawanannya juga berpotensi disalah artikan. Bayangkan apa yang seorang ikhwan lakukan ketika menerima pemberian dari seorang akhwat seperti Anya, padahal sebelum itu ada orang-orang lain yang juga mendapatkan barang yang sama. Tapi masa sih Anya harus bilang pada ikhwan tersebut: Aku juga memberi ini pada si A, si B hingga Z. Tidak mungkin kan. Jadi kadang-kadang pemberian itu bisa disalah artikan bagi yang kurang paham makna sedekah. Bersedekah itu kan diutamakan kepada anak terlantar dan fakir miskin, jadi ketika mendapat sesuatu, makanan, minuman atau apalah, anggap saja itu pemberian dari orang dermawan terhadap fakir miskin. Bukan begitu?

Dua bulan kemudian aku mendapat sinyal-sinyal bahwa Anya telah menerima khitbah seorang anak LDK. Surprise. Data di lapangan menyebutkan suspect kuat ikhwan dengan nama Agung Hariyadi. Emm, wah tidak sabar ingin mendengar berita gembira tersebut dari keduanya. Pantas saja minggu kemarin Anya bilang padaku ingin cepat-cepat penelitian supaya bisa lulus 3,5 tahun. Barang kali ini adalah faktor pemicunya. Atau bahkan mereka ingin menikah dalam beberapa bulan kedepan. Wah, wah, kalau benar begitu aku harus merubah kebiasaan yang tak boleh dilakukan pada calon istri teman sendiri. Bercanda berlebihan. SMS yang tak perlu apalagi malam-malam.

“Assalamu’alaikum warohmatullah.” Salim muncul dari belakang ku.

“Wa’alaikum salam. Kaif ya akh? Bagaimana istri?”

“Alhamdulillah bi khoir. Istri juga. Sekarang sedang ngisi satu bulah” dia mendekatkan wajahnya padaku. Nampaknya belum banyak orang yang tahu tentang berita itu.

“Alhamdulillah. Wah emang tok cer sampean.”

“Bagaimana kabar Anya?”

“Wah, sepertinya sebentar lagi dia akan menyusul antum.”

“Sama siapa?”

“Ana belum bisa jamin kepastiannya. Tapi ana sempat melihatnya boncengan dengan seorang ikhwan, anak LDK juga. Bahkan sempat tukar-tukaran HP. Nah, apa coba kalau tidak ada hubungan apa-apa antara keduanya. Ana pikir sih mereka sedang ta’arufan. Doakan saja semoga lancer dan dijaga dari fitnah”

“Ta’arufan? Hah, masih saja pakai metode jadul ala pacaran. Ana dengan istri saja gak pake bonceng-boncengan apalagi tukar-tukaran HP. Cukup Istikarah, lalu setelah merasa yakin, ya ta’arufan. Cuma satu bulan setelah itu langsung ijab Kabul. Dulu ketika ana bersama relawan lainnya terjun ke lapangan saat gempa Yogya, tak pernah satu pun ana melihat ada ikhwan yang membonceng akhwat. Itu di daerah gempa loh. Tapi mereka tetap konsisten pada prinsipnya. Anak zaman sekarang, perlu dibina benar, atau bahkan dibinasakan kebiasaan-kebiasaan yang tidak relevan dengan shariah seperti itu”

“Waduh, sudah-sudah. Koq jadi ngomongin orang lain. Ntar jadi gibah. Lagian ana tak terlalu ingin mengurusi yang seperti ini. Khawatir menular. Rencana a nikah masih lama. Ke luar negeri atau S2 dulu lah. Oh ya, afwan ana harus cabut sekarang. Ada janji”

“Jangan lupa antum harus pastikan dugaan antum tentang Anya tadi, jangan sampai menjadi fitnah. Apalagi kalau sampai anak-anak LDK lainnya pada tahu. Bisa-bisa karena nila setetes, rusak susu sebelanga”

TO BE CONTINUED TO PART III (LAST PART)

Ketika VMJ Menyerang Aktivis (Part 1 of 3)

"Sampaikan salamku untuk Ny. Abdullah. Selamat karena Anda telah menjadi istri seorang mujahid dan menjadi pencetak generasi mujahid met malam. Wass"

Aku membuka lebar-lebar kelopak mataku membaca SMS tersebut. Ny. Abdullah? Siapa yang jadi Ny. Abdullah. Kandidat Ny. Abdullah saja boro-boro. Dalam hati, emmm mancing lagi neh. Padahal di SMS sebelumnya aku dan dia sudah saling meminta maaf dan mengingatkan atas candaan yang sedikit berlebihan ketika rapat tadi sore. Lalu aku membalas:

"Sudahlah jangan memuji diri sendiri, duhai Ny. Abdullah. . Gud nite"

SMS berakhir dan aku mematikan HP lalu beranjak tidur. Oh iya, sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri. Namaku Abdullah. Teman-temanku biasa memanggilku Ola. Itu panggilan kesayangan di keluarga. Jadi barang siapa yang juga merasa sayang padaku maka panggilah aku OLA. Aku bukan seorang ikhwan original, hanya ordinary boy yang baru icip-icip di lembaga dakwah kampus. Aku harus merefresh masa lalu saat SMA yang jauh dari Shar’i. Terkadang aku cemburu dengan ikhwan original yang sehat liqonya, kontinyu setoran hafalannya dan terjaga hijabnya. Tugas-tugas kuliah dan pekerjaan part time memang menjadi prioritas utama pada semester kemarin. Sejak ibuku menjadi single parent, sekarang aku harus berjuang mengakomodir uang jajan sendiri. Semoga saja semester depan aku mendapat beasiswa sehigga bisa mewujudkan niatku untuk menjadi kader yang komitmen dengan amanatnya di LDK.

Oh ya, aku hampir lupa memperkenalkan akhwat yang mengirim SMS di atas. Dia adalah Anya. Seorang akhwat dengan hijab mengesankan. Kata beberapa temanku jangan memandang mata Anya, sebab bisa-bisa kau tersihir. Kekuatan sihirnya sangat mengagumkan. Mungkin akan terbawa ketika kau ingin tidur, bahkan mungkin hingga ke dalam mimpi. Seram sekali. Tapi menurutku Anya…ya itu… sama seperti anggapan teman-temanku. (Habis kalau bilang Anya biasa-biasa saja, bisa-bisa aku dibilang ga normal nanti. Jadi ikut-ikut saja lah). Oke deh kalau begitu

Hari sabtu adalah hari paling dilematis. Jadwal liqo hari ini berntrok dengan jadwal kerjaku. Saati liburan sekolah seperti sekarang ini sering ada panggilan dari supervisor untuk bekerja tambahan di akhir pekan. Upahnya lebih besar dari hari kerja. Tidak diwajibkan datang memang, tapi sayang kalau dilewatkan. Aku masih mikir-mikir lalu ada SMS masuk

“Akh, hari ini sesudah liqo ana pengen ngobrol. Urgent.” SMS dari Salim, my best friend. Sepertinya aku memang harus absent kerja kali ini.

Liqo berakhir, dan akupun meluangkan waktu untuk sahabatku, Salim. Kami duduk dipojok masjid.

“Akh, ana berniat menyempurnakan separuh agama tahun ini.” Salim memulai pembicaraan. Ckkkkk, aku menelan air liur..

“Tolong cubit tanganku” aku meminta Salim melakukannya. Ini hanya pembuktian kalau aku tidak sedang bermimpi. “Auuuuu! keras sekali!!! Sudah! sakit tau!!” refleks itu membuat Salim tertawa. Senang sepertinya melihat temannya kesakitan. Ini baru awal tahun. Salim masih punya waktu cukup panjang kalau memang dia serius

”Ana butuh saran antum.”

“Kalau boleh tahu apa yang menyebabkan antum memutuskan langkah ini?”

“Ini bukan karena ana lagi jatuh hati dengan seorang akhwat, lantas ana memutuskan untuk menyegerakan hal ini, tapi karena alasan tanggung jawab seorang anak. Antum tahu dalam keluarga ana, kondisi ekonominya kurang memadai. Penghasilan Bapak sebagai seorang guru tak cukup untuk merapel kuliah ana, dua kakak ana, dan satu adik ana. Ana, sedangkan kakak ana yang pertama kuliahnya belum kelar-kelar padahal sudah semester 10 dan kakak yang kedua sudah semester 8 dan tidak mau bernasib seperti yang pertama. Kuliah mereka berdua harus disegerakan. Adik ana yang cewek sudah kelas tida SMA sebentar lagi Ujian Nasional jadi tak boleh diganggu gugat. Nah, karena alasan itu ana yang masih di semester enam, mungkin bisa mengalah. Menikah akan mendorong ana lebih mandiri dan lepas dari tuntunan orang tua. Setidaknya satu tanggungan lepas dan ini akan meringankan beban orang tua.”

“MashaAllah, niat antum sungguh mulia. Tentunya itu semua dilandaskan karena mengharap Ridho Allah. Apakah sudah memikirkan segala konsekuensi? Terutama kuliah dan masa muda antum”

“Sudah, sudah semuanya. Konsekuensi kuliah sepertinya akan menjadi prioritas ke dua. Tentang masa muda… Halah! Sok muda antum ini”

“Sip. Berarti sudah mantabz. Nah, sekarang bagaimana dengan si calon?”

“Ini dia. Ana butuh saran antum. Ana punya dua orang calon. Salah satunya adalah sahabat antum. Mungkin antum sudah bisa menebak orangnya” Belum keluar nama yang bersangkutan, pikiranku langsung terhubung dengan sesosok akhwat. Dalam hatiku, curiga orangnya si…

“Emang Sini paranormal. Sudah, Situ gah usah basa basi, to the point saja.”

“Anya….” Salim mengatakannya pelan. Tepat dugaanku.

Di akhir percakapan kami disimpulkan aku mendukung pergerakan Salim untuk mengkhitbah dengan Anya. Aku bersedia membantu sebisanya. Anya adalah planning A, sedangkan akhwat yang satunya adalah planning B. Menurut salim kemungkinan 70 positif dan 30 negatif. Dia begitu yakin pasalnya Anya juga menunjukkan sinyal-sinyal kepositifan padanya, entah itu dari SMS ataupun dari intetaksi secara langsung. Padahal jika salim membaca deretan SMS candaan dan tausiah Anya di HPku, mungkin dia akan mangubah persentase itu menjadi kebalikannya. (Mau tau isi SMS2nya? Behind the scene saja yah tak usah di sini ^^)

Hari ini saatnya Salim bertemu dengan Anya untuk memdapatkan jawaban dari lamaran yang diutarakan dua minggu yang lalu atau tepatnya dua bulan setelah dia pertama kali mengutarakan hajatnya tersebut padaku.

“Afwan ana terlambat” Anya mengambil posisi duduk di depan Salim.

“Tidak apa-apa…” Salim tersenyum simpul.

“Langsung saja. Setelah memikirkan matang-matang dan atas saran serta pertimbangan orang tua, Saya putuskan…” suara Anya terpotong oleh dering suara HP. Ibunya menelpon dan dia meminta izin mengangkatnya.
“InshaAllah Mah, keputusan Anya sudah bulat. Mohon doanya saja” Anya langsung menutup telpon seakan tak ingin menunggu untuk melanjutkan jawabannya tadi. Sementara Salim sedang H2C (Harap-Harap Ceria).

TO BE CONTINUED......